Efisiensi Anggaran Ubah Skema Festival Erau 2026, Pelaksanaan Diserahkan kepada Kesultanan
Suasana Prosesi Mengulur Naga di accara festival Erau 2025.
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Penyesuaian anggaran yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) turut mengubah pola penyelenggaraan Festival Erau Adat Pelas 2026.
Meski demikian, agenda
budaya yang menjadi identitas masyarakat Kutai itu dipastikan tetap
berlangsung.
Berbeda dari tahun-tahun
sebelumnya, seluruh rangkaian pelaksanaan festival tahun ini akan dijalankan
oleh Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, sementara pemerintah daerah
melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar mengambil peran dalam
koordinasi dan persiapan.
Festival Erau Adat Pelas
merupakan tradisi budaya tertua di Kutai yang berakar dari adat Kesultanan Kutai
Kartanegara Ing Martadipura.
Perhelatan ini tidak hanya
menyuguhkan atraksi seni dan budaya, tetapi juga diisi berbagai prosesi adat
yang sarat akan makna sebagai bentuk ungkapan syukur serta pelestarian warisan
budaya masyarakat Kutai.
Karena nilai historis dan
sakralnya, penyelenggaraan Erau selalu melibatkan Kesultanan sebagai pemegang
otoritas adat.
Kepala Disdikbud Kukar,
Heriansyah, mengatakan keputusan tetap menggelar Erau merupakan hasil
kesepakatan antara Pemkab Kukar Kukar dan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing
Martadipura.
Kolaborasi dipilih sebagai
langkah untuk memastikan festival budaya tersebut tetap dapat terlaksana di
tengah kebijakan efisiensi anggaran.
"Atas persetujuan
Bapak Bupati dan juga Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, diputuskan
bahwa Erau tetap dilaksanakan dengan mengedepankan kolaborasi," ujarnya
saat ditemui di kantor Disdikbud Kukar, Tenggarong pada Selasa (30/6/2026).
Menurut Heriansyah,
tahapan persiapan diawali dengan pembentukan tim pelaksana.
Setelah itu, lanjutnya,
berbagai agenda teknis akan mulai dijalankan pada Juli, termasuk latihan tari
massal yang menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Festival Erau.
"Insya Allah pada
Juli sudah mulai masuk tahapan pelaksanaan, termasuk latihan tari massal yang
memang membutuhkan waktu persiapan cukup panjang," kata dia.
Selain mempersiapkan
tahapan teknis, Disdikbud Kukar juga terus membangun komunikasi dengan berbagai
pihak agar setiap rangkaian kegiatan dapat berjalan sesuai jadwal.
Koordinasi tersebut
mencakup unsur yang terlibat dalam pelaksanaan prosesi adat, pertunjukan
budaya, hingga kegiatan pendukung lainnya.
"Di sisi lain, kami
juga telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak yang berkaitan dengan penyelenggaraan
Erau," tuturnya.
Heriansyah menjelaskan,
kebijakan efisiensi anggaran membuat pemerintah daerah harus menyesuaikan
mekanisme pembiayaan penyelenggaraan Festival Erau.
Seluruh anggaran
pelaksanaan tahun ini dihibahkan kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing
Martadipura sehingga pelaksanaan kegiatan berada di bawah kewenangan
Kesultanan.
"Untuk pelaksanaan
Erau, kami berupaya seefektif mungkin memaksimalkan anggaran yang tersedia.
Tahun ini seluruh anggaran pelaksanaan dihibahkan kepada Kesultanan Kutai
Kartanegara Ing Martadipura," jelasnya.
Dengan skema tersebut,
Disdikbud Kukar tidak lagi bertindak sebagai pelaksana teknis, melainkan
berfokus mengawal koordinasi agar seluruh persiapan berjalan sesuai rencana.
Sementara itu, Kesultanan
bertanggung jawab atas pelaksanaan seluruh rangkaian kegiatan, terutama prosesi
adat yang memiliki nilai sakral dan menjadi ruh dari Festival Erau.
"Nantinya pihak
Kesultanan yang akan melaksanakan kegiatan, sedangkan Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan lebih berperan melakukan koordinasi. Hal itu karena alokasi anggaran
di Disdikbud juga mengalami penyesuaian, sehingga pelaksanaan kegiatan-kegiatan
yang bersifat sakral sepenuhnya menjadi kewenangan pihak Kesultanan,"
pungkasnya. (kriz)